Dari Jendela Asrama

0
komposisi mimpi

1. Telepon Umum di Seberang Jalan

AKU meneleponmu lewat tengah malam, dengan
puisi yang baru selesai kugubah di sisi belakang
fotokopian diktat interpretasi foto udara atau
buku panduan praktikum dasar-dasar ilmu tanah…

“…aku ingin jadi surveyor, mencocokkan lahan
dengan jenis tanaman yang kelak dibudidayakan
oleh para transmigran…” aku bacakan salah satu
bait puisiku untukmu.

“..tapi itu artinya aku akan kamu tinggalkan, kan?
Berbulah-bulan. Dan kamu tak akan lulus lekas,
kamu harus mengulang kuliah Pak Tatat S Abdullah.”

Dari jendela Asrama, kadang tak perlu kita bedakan,
mana kenyataan bait puisi, mana imajinasi kehidupan.

Besok malam, dengan koin seratusan sisa belanja
di Tan Ek Tjoan, kubacakan lagi sajak yang lain.

2. Angkot Ciawi-Sukasari-Baranangsiang

BELAJARLAH bergegas dari jalanan, segalanya dikejar,
segalanya diburu, kenek dan supir angkot adalah guru
yang amat mahir mengajarkanmu tentang hal itu.

Aku merasa tidak pernah sampai ke mana-mana, seperti
mereka meneriakkan nama terminal, dengan kata yang
tak pernah ingin dilengkapkan. “…Siang, kampus, …
siang, kampus….” Lalu melompatlah, setelah ongkos!

Hidup tak pernah benar-benar berhenti, kecuali oleh mati.

Dan jalanan bagai media agar di cawan petri, angkot-angkot
itu koloni bakteri yang berbiak cepat. Ganas sekali.

3. Cara Membaca Majalah Berita dan Surat Kabar

KALAU kamu penghuni asrama baru, jatah bacamu nanti,
setelah siang atau sore hari. Jangan marah kalau banyak
halaman yang dipotong atau dilingkari, itu pasti iklan
lowongan pekerjaan yang diburu seniormu yang sudah alumni.

KALAU sore hari surat kabar dan majalah sudah tak ada
di ruang baca, cobalah kamu gelar razia ke setiap kamar,
selalu ada oknum yang merasa amat memiliki barang Asrama.

Tapi aku punya jalan keluar, habis subuh datanglah langsung
ke Rahardja Agency, sekalian jalan pagi, baca sepuasnya
di sana, sebelum kamu bawa pulang kembali ke Asrama.

Demikianlah, di Asrama, kamu tidak hanya dapat tinggal,
numpang tidur, dan menghafal rumus sulit kalkulus, tapi
juga belajar membaca dunia yang besar dan rumit, lalu
menemukan jalanmu sendiri: jalan ke dirimu sendiri.

(Sumber)

LEAVE A REPLY