Kamu perempuan Pasif,  Asertif, atau Agresif?

0

Ratri (34 tahun) cuma bisa bergidik membaca berita koran akhir-akhir ini. Pasalnya, entah sudah berapa kasus menyebutkan ada ibu yang menganiaya buah hatinya sendiri.

Kengerian seperti itu tentunya tidak cuma dirasakan Ratri. ”Malah tukang bakso langganan saya aja sibuk membahas kejadian itu,” kata Ratri. Mengapa ya, kemarahan bisa berujung pada tindakan seperti itu? ”Kalau kita lihat, memang banyak kasus ibu menyiksa anaknya. Saya menghayatinya, kemungkinan si ibu marah pada suaminya, tetapi karena secara sosiokultural tidak boleh marah kepada suami dan yang dibolehkan marah kepada anaknya, maka anak yang menjadi pelampiasan,” ungkap psikolog lulusan Universitas Gajah Mada, Elli Nur Hayati.

Secara sosial dan budaya, kata Elli, seolah-olah sudah ada pakem bahwa wanita senang memendam perasaannya. Kemarahannya tidak terekspresikan keluar. Menurut Elli, bahkan yang dipendam tidak hanya energi negatif seperti marah. Energi positif pun misalnya, senang juga suka dipendam. Karena memang secara sosiokultural, kata dosen di Universitas Ahmad Dahlan ini, itu tidak diizinkan untuk terekspresikan oleh wanita.

 

 

 

 

Kita tentu tidak asing kalauada orang berkomentar: ”Sayang ya, cantik tapi galak!” Menurut Elli, ini berarti ada patokan tertentu sehingga pada hal-hal tertentu, wanita diharapkan tidak mengekspresikan perasaannya, termasuk saat marah. Lantas, haruskah memendam rasa? Elli menyarankan, wanita perlu dilatih menjadi asertif dan bukan pasif. Artinya, ia belajar mengungkapkan perasaannya dengan cara yang positif. Sebaliknya, pria pun belajar bersikap asertif dan bukan agresif. Dalam keluarga, jika suami dan istri saling asertif, maka kekerasan bisa diakhiri dan perceraian bisa dihindari Asertif adalah mengekspresikan apa yang kita pikirkan.

 

Jika diukur dalam skala, maka sikap asertif ini berada di antara agresif dan pasif. Elli pun memberi contoh, yaitu reaksi seseorang saat menolak suatu permintaan. Bagi orang yang agresif, ia akan langsung mengatakan dengan tegas, ”Tidak mau!”

Berbeda dengan orang yang pasif, ia akan memilih diam. ”Karena ingin menolak, tapi tidak enak,” kata Elli.

Jadi, bagaimana cara yang asertif? Kata Elli, orang yang asertif akan berkata, ”Maaf ya, saya tidak bisa.”

Nah, profesor psikologi dari George Mason University, June Tangney, menyebutkan betapa berbahayanya memendam kemarahan secara pasif. Saat seseorang kecewa, orang yang pasif berusaha memendam perasaannya karena takut menyakiti hati orang yang disayanginya. Padahal seiring berjalannya waktu, tekanan perasaan itu akan bertumpuk dan bisa meledak suatu saat.

 

Lebih buruk lagi, kata Tangney, kemarahan yang terpendam bisa menyebabkan sakit pada fisik kita. Misalnya serangan jantung, hipertensi, depresi, dan lain-lain.

 

 

LEAVE A REPLY