Rehat  

Inspiratif! Pemilik Kafe ini Gak Ragu untuk Pekerjakan Orang-orang Difabel. Salut!

Seruni – Bagi penyandang disabilitas, tentu sebenarnya mereka tak ingin lahir ke dunia ini dengan keadaan yang seperti itu. Oleh sebab itu, mereka juga ingin diperlakukan sama seperti orang normal lainnya yang dapat melakukan aktivitas apapun.

Image result for Antonio Prieto Buñuel
cadenadevalor.es

Melihat hal itu, sebuah kafe di Nikaragua punya pelayanan yang berbeda ketika menyambut pengunjungya. Saat masuk kafe, pengunjung akan disambut oleh seorang pelayan yang tersenyum, mengulurkan sebuah menu, dan menunjuk ke sebuah meja.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, para pelayan langsung memberikan isyarat jumlah pengunjung yang datang.

Dilansir dari Huffington Post, kafe bernama Café de las Sonrisas (“Smiles Cafe”) di Granad, ini sengaja mempekerjakan orang-orang yang tuli. Mulai dari para pelayan sampai para juru masak.

“Tujuan saya adalah agar kafe ini menjadi cermin bagi bisnis lain agar mereka mempekerjakan orang-orang penyandang disabilitas,” kata pendiri Antonio Prieto Buñuel, yang berasal dari Spanyol.

“Ini juga untuk orang-orang (difabel) yang kerja di sini agar menghilangkan rasa takut mereka sendiri untuk bergabung ke dalam angkatan kerja,” sambungnya.

Di kafe ini, pelanggan memesan dengan menunjuk ke item pada menu, yang memiliki simbol khusus untuk mengindikasikan substitusi. Misalnya, jika kamu memesan parfait buah, dan kamu tidak ingin yogurt di dalamnya, kamu bisa menunjuk pada ilustrasi parfait, dan kemudian pada gambar yogurt dengan huruf merah besar “X” di atasnya.

Related image
laconexionusa.com

Menjelang akhir makan semua orang di meja telah belajar untuk mengatakan “terima kasih” dalam bahasa isyarat, yakni membawa satu tangan dari dagu ke telapak tangan kamu yang lain, ditangkupkan di depan pengunjung.

Di Nikaragua, sekitar satu dari 10 orang mengalami kecacatan, menurut angka tahun 2003. Namun sekitar 99 persen orang penyandang cacat menganggur.

Sementara hukum Nikaragua mengharuskan perusahaan mempekerjakan dua orang penyandang cacat untuk setiap 50 karyawan, meski banyak perusahaan tidak melakukannya.

“Café de las Sonrisas lahir karena 99 persen orang penyandang cacat (di Nikaragua) menganggur, Jadi saya memutuskan untuk membuka sebuah kafe di mana semua karyawannya tuli untuk menunjukkan bahwa itu berhasil,” Prieto Buñuel.