Mengapa Hati Kita Tertutup?

0

Pernahkah Anda bertemu orang yang selalu mengeluh? Saya pernah. Orang ini merasa bahwa ia terlahir ke dunia untuk menderita. Berbagai problem kehidupan seolah selalu menghampirinya tanpa jeda. Ironisnya, justru ia merasa bahagia saat bisa mengeluh dan menceritakan penderitaannya.

Mengapa ada orang yang seolah tak bisa melihat indahnya kehidupan? Saya akan menjelaskannya dengan menggunakan analogi sederhana. Menurut Anda, mampukah selembar daun kecil menutupi dunia? Mungkin sebagian Anda menjawab “Bagaimana mungkin menutupi dunia, menutupi satu rumahpun tak sanggup.”

Nah sekarang bagaimana bila daun itu masuk ke kedua kelopak mata Anda? Menutupi mata Anda. Apakah Anda masih bisa melihat dunia? Jawabnya tentu tidak. Daun kecil itu telah membuat Anda tak bisa melihat indahnya dunia. Dunia tertutup bagi Anda.

Mengapa ada manusia yang tak bisa melihat indahnya kehidupan dunia? Karena hati orang itu telah tertutup dengan penyakit hati. Berbagai penyakit hati yang ada mungkin terlihat kecil namun karena menutupi hati manusia ia tak bisa lagi melihat indahnya kehidupan.

Saat penyakit hati “kurang bersyukur” bersemayam di hati seseorang maka yang muncul berbagai ketidakpuasan. Sudah mendapat nikmatpun ia masih berucap “yah sedikit banget.” Ia tak bisa lagi melihat bahwa ia menerima banyak nikmat lain yang jauh lebih besar. Ia selalu merasa tak puas dengan apa yang sudah ia dapatkan.

Saat penyakit hati “iri dan dengki” hadir di dalam hati maka ia sering gelisah karena merasa orang lain selalu menerima nikmat yang jauh lebih besar darinya.  Sebaliknya, jika orang lain menerima musibah, ia mencela dengan mengatakan “itu balasan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya.”

Orang-orang yang melihat banyak hal dari sesi negatif, itu karena hatinya benar-benar memang sudah tertutup dengan penyakit hati. Dan bila itu terjadi, orang tersebut tak akan bisa merasakan kenikmatan hidup. Dunia hanya dijadikan tempat ratapan dan keluhan.

Mari kita buang berbagai penyakit hati sebab walau ia kecil tetapi bisa menutupi kejernihan hati dan membuat kita “buta” terhadap berbagai nikmat yang ada.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini

LEAVE A REPLY