Sajak Cinta: Karnaval Bisikan

0
Catatan Engz450 × 299Search by image

SAYA ingin mengantar sajak-sajak di buku ini dengan sedikit kilas balik. Di awal 2000-an, sebuah situs puisi menarik banyak perhatian. Cybersastra (www.cybersastra.net– jangan cari, dia sudah tak ada) namanya. Ia dikelola dan dimeriahkan oleh sejumlah pencinta puisi. Dari situ terbit satu perdebatan. Tema perdebatannya: apakah  internet telah membawa suatu pembaharuan dalam sastra (khususnya puisi) di Indonesia?  Saya sedikit banyak terlibat meski hanya sebagai figuran dengan peran yang amat tidak penting.

 

Ada yang bilang, “ya ini adalah jalan baru yang mencerahkan perpuisian kita”. Ada yang mencibir, “Cis, sastra di internet itu seperti tong sampah. Semua bisa tampil. Tak ada seleksi.”   Ada yang dengan militan membela. Ada yang terus menyerang.  Ada juga sebagian dari kami yang terus saja berkarya dengan penuh cinta, tak terlalu hirau pada perdebatan itu.

Bagi saya sendiri, oh si figuran yang punya lakon tak penting ini, perdebatan itu (dengan tetap menyimpan rasa hormat yang amat tinggi kepada para pembela Cybersastra) sedikit agak sia-sia. Sebab bagi saya, media cetak: majalah, buku, surat kabar, dan internet : blog, situsweb, milis, adalah medium.  Ya, itu hanya wadah.  Apa yang diisikan pada wadah itu sama saja: puisi. Ukuran-ukuran untuk menakar mutu puisi itu sama saja dimana pun ia disajikan.

Tentu ada hal-hal yang bisa dan harus disesuaikan  ketika sesuatu hal diisikan ke satu wadah dan ke wadah lainnya.  Dan tentu juga bahwa tidak ada medium yang sedemikian sempurna mengatasi segala hal dibanding medium lain. Pekarya yang baik mula-mula dia akan menaklukan mediumnya, lalu dia manfaatkan kelebihan dan dia atasi kelemahan-kelemahannya, demi  keunggulan karyanya.

Lalu kini kita sedemikian akrab dan asyiknya berada di medium baru bernama Twitter.  Jack Dorsey (@jack) pasti tak menyangka bahwa program aplikasi yang ia rancang ini mengubah banyak aspek dalam cara kita berinteraksi dengan teks, dan membuat begitu banyak kemungkinan penjelajahan estetis.  Twitter adalah hadiah  dari kejeniusan seorang manusia bagi  umat manusia.

Ketika mula-mula membuka akun Twitter, beberapa bulan setelah diperkenalkan, saya  tak tahu apa potensi medium baru ini bagi kegemaran saya berpuisi.  Batasan 140 karakter itu adalah hambatan sekaligus tantangan, yang bagi orang-orang yang kreatif tidak perlu menunggu lama sampai mereka menemukan sesuatu jalan untuk bermain-main di situ.  Peranti telepon cerdas semakin terjangkau dan memungkinkan wilayah ekplorasi di medium bernama Twitter itu semakin luas dan dalam.

Saya kira, kita sekarang  jauh lebih dewasa  menerima  ketika sastra (ah atau sebut saja kepenulisan kreatif) dimainkan di medium baru bernama Twitter. Tak ada perdebatan yang mempermasalahkan apakah ini sebuah pembaharuan, apakah sastra surat kabar akan mati, dan lain-lain. Tapi sejumlah karya dan sejumlah nama telah lahir dan akan terus lahir di sini.

Akun termoderasi pertama yang saya kenal – dan saya terjerumus dengan sukses di situ – adalah @fiksimini.  Akun yang mengajak pengiringnya berimajinasi dengan karya fiksi menurut  topik yang juga berasal dari pengiring.  Ada satu tim moderator yang bergantian memilih dan karya yang terpilih dan di-retweet.  Di situlah serunya.  Saya kira dari keasyikan bermain-main di situ banyak yang kemudian menyadari bahwa ada potensi kepenulisan dalam dirinya.  Ini baik.  Sangat baik.  Mereka yang sebutlah sudah menjadi penulis yang jadi pun tanpa rikuh bermain di medium ini.

*

Sajak-sajak yang saya antar di buku ini adalah hasil dari keseriusan, keriangan, bemain-main dengan medium baru bernama Twitter tersebut.  Akun termoderasi @Sajak_Cinta, datang pada saya tak segegap-gempita @fiksimini.  Saya kira tadinya ia hanya akan melesat sebentar lalu perlahan redup seperti meteor.  Jika itu terjadi pun tak ada yang harus disesali. Twitter sebagai medium tidak akan salah. Sebuah gagasan – sebermain-main apapun – dengan teguh menguji  para pengu

sungnya, seberapa kuat mereka bisa mempertahankan gairah untuk terus mencipta.

Dan ternyata akun ini dengan segala kerendahhatiannya  bertahan, terus mempertahankan gairah keberadaannya, dan membangkitkan gairah para pengiring  yang terus menghidupinya.  Seribu puisi yang terkumpul di buku ini adalah bukti interaksi itu. Saya dan siapa saja yang mencintai puisi, yang mencintai kerja kreatif, yang mencintai etos penciptaan, saya kira boleh sedikit lebih berharap banyak pada akun ini.

*

Siapakah para penulis-penulis sajak yang meramaikan akun @sajakcinta dan karyanya terhimpun di buku ini? Sebagian kecil ada yang saya kenal. Sebagian lain sama sekali saya tidak tahu.  Tapi bagi saya, sajak mereka  sampai  utuh kepada saya sebagai dirinya sendiri.  Kenal atau tidak saya dengan penulisnya sama sekali tak menambah atau mengurangi kadar mutu sajak tersebut.

“Dengan berbagai pertimbangan,” kata Pablo Neruda, “saya kira semua buku harus terbit secara anonim.”  Ya, anonim.  Tanpa nama.  Neruda bicara soal buku puisinya Los versos del Capitan.  Ini adalah buku Neruda terbit tahun 1952, tanpa mencantumkan namanya sebagai penulis, alias anonim.

Buku ini berisi sajak cinta  yang sederhana, terus-terang, bertenaga, serta membumi.  Sebuah buku yang katakanlah amat jujur dan telanjang.  Neruda mengikuti kata hatinya.  Ia dengan polos menyatakan cinta lewat sajak kepada kekasihnya Mattilda Urrutia,  yang  kelak tiga tahun setelah buku itu terbit, yakni pada tahun 1955, baru mereka menikah resmi.  Kelak baru di tahun 1963, sebelas tahun kemudian barulah Neruda mengakui bahwa Los versos del Capitan itu adalah karyanya.

Anonimitas bukan topeng. Akun-akun yang tak merujuk langsung ke pribadi yang kita kenal, kecuali kelak dibuka sendiri jatidirinya oleh si pemilik akun bukanlah tabir tempat berlindung dari apapun.  Ada rasa nyaman ketika  sesorang  berkarya di balik ketidaktahuan pembaca tentang siapa kita. Tapi sebaliknya ada nikmat yang luar biasa ketika kita sebagai manusia, sebagai seseorang, dikenali dan dihargai lewat karya-karya kita.  Ini sepenuhnya pilihan bebas.  Karya kita bisa menyesuatukan nama kita.  Tapi, berkaryalah dengan jujur dan nikmat tanpa dibebani dan membebani keinginan harus menjadi sesuatu.

*

APAKAH karya yang termuat di buku ini adalah sajak? Ya. Semuanya. Sajak, kata Sutardji Calzoum Bachri, adalah apa yang diniatkan oleh penulisnya sebagai sajak.  Maka, semua karya di buku ini   adalah sajak, karena saya yakin setiap akun yang menulisnya, kemudian mengirimkannya ke akun @sajak_cinta, dengar sadar meniatkan karyanya sebagai sajak.

Apakah 140 karakter yang dipersyaratkan Twitter hanya menjadi pengerdil ide-ide besar? Ataukah bisa  menjadi jalan untuk dengan bernas menyarikan gagasan besar ke dalam satu bait yang padat berisi?  Kedua hal itu bisa terjadi. Dalam semangkok kecil, bisa tertuang murni air sake atau masam air tapai gagal fermentasi.

 

Keterbatasan wadah, sebagaimana batasan karakter teks, seharusnya tidak menjadi kendala untuk melahirkan karya besar. Aforisme-aforisme pendek sudah lama digarap oleh banyak penyair besar. Kebernasan karya-karya pendek bahkan bisa menjadi tanda kebesaran seorang penyair. Rabindarath Tagore yang karyanya saya kutip di awal pengantar ini, adalah salah satu yang membuktikan hal itu.  Saya mengutip sajak pendek di atas dari Burung-Burung Liar, kumpulan 326 aforisma Tagore. Aforisme-aforisme tersebut dalam terjemahan Bahasa Indonesianya sebagian besar tak lebih dari 140 karakter.

Apakah karya yang dimuat di buku ini adalah sajak yang disukai? Tidak semua orang suka sajak. Tidak semua penyuka sajak menyukai semua sajak. Tapi pasti ada karya di buku ini yang menjadi sajak yang sangat disukai oleh seorang dua orang. Mungkin juga ribuan orang.

Apakah karya di buku ini adalah sajak yang baik? Sajak ketika dia sudah hadir di depan sidang pembaca, terbuka untuk diuji oleh siapa saja. Juga oleh waktu, inilah penguji yang paling teguh, bukan hanya terhadap sajak, tapi juga atas apa saja, bukan?

Cinta adalah satu dari tema besar dan abadi dalam persajakan di dunia ini. Saya kira cinta bukan lagi sekadar godaan untuk disajakkan, tapi sebuah kelaziman, atau sesuatu yang terberi seperti udara, dan menulis sajak adalah seperti bernapas. Yang terhirup dalam napas sajak kita, mau tak mau adalah udara cinta itu.

Karena itu, menulis sajak cinta yang tidak mengulangi cara ucap sajak terdahulu sesungguhnya bukan perkara mudah, sebab sudah sedemikian banyak jenis sajak ini dituliskan.  Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Ada banyak sajak dalam buku ini menemukan kemungkinan itu, ia tampil sebagai bait yang cemerlang, dan berhasil mengelak dari pengulangan.  Yang mana? Tidak, saya tak akan tunjukkan. Menikmati sajak, kadang harus kita biarkan sebagai pengalaman personal, mari kita biarkan ia menjadi rahasia jejak estetika di hati kita.

Membaca sebuah antologi sajak itu seperti kita berdiri di seruas jalan kota, dan di situ kemudian lewat peserta karnaval, yang bergerak seperti gerak aktor berlari dalam sinema yang diperlahankan. Meriah, ramai, seru, tapi juga hikmat. Kita mungkin tak sempat meneliti rinci setiap hal yang lewat dalam karnaval itu, tapi pasti ada satu dua yang memikat kita.  Itu cukup.

Atau seperti berada di keteduhan sebatang pohon rindang-rimbun. Dengan angin yang lembut, tapi cukup untuk menggemerisikkan dedaunannya. Lalu kita menyimak gemerisik itu seperti bisikan, yang seperti kata Tagore, gembira di hati kita.

Maka, sambutlah karnaval ini. Terimalah kemeriahan ini. Simaklah bisikan ini. Gembirakanlah hati kita.  Dalam hidup yang serba rutin, bukankah jarang kita dapat kesempatan untuk merayakan hal-hal kecil seperti ini? Aduh, saya melihat ada banyak peserta karnaval yang lewat sambil membawa cermin kecil dan saya melihat  wajahku di situ. Ah, aku juga mendengar bisikan yang seperti pernah dibisikkan oleh seseorang untuk mengingatkan aku. Kau melihat dan mendengar apa, Kawan? []

(sumber)

LEAVE A REPLY