5 Cara Menguatkan Mental Anak Saat Ia Harus Mengalami Kegagalan

heysigmund.com

Seruni.id – Setiap orang tua pasti ingin anaknya sukses, baik dalam bidang akademik pun non-akademik. Namun, seperti orang dewasa, tak selamanya anak akan mengalami keberhasilan, sekalipun dukungan dari orang tua sudah diberikan secara maksimal. Maka itu, sebagai orang tua, kita perlu tahu cara menguatkan mental anak, jika ia harus mengalami kegagalan.

Related image
verywellfamily.com

Misalnya saat anak ingin masuk sekolah favorit, tapi ternyata tidak diterima. Atau ketika mengikuti lomba olahraga, dan tidak mendapat juara sama sekali. Kekecewaan pasti akan dirasakan anak.

Dan, jika tidak didampingi dengan baik, anak akan mengalami stres bahkan depresi karena kekecewaannya tersebut. Lantas, apa yang sebaiknya orang tua lakukan sebagai cara menguatkan mental anak?

“Penting untuk menjadi contoh bagi anak bagaimana menghadapi kegagalan. Tugas orang tua adalah mendorong anak untuk melihat pengalaman kegagalan dan pelajaran yang didapat,” kata Gary Douglas, seorang konselor keluarga.

Ketika buah hati gagal, ajarkan mereka untuk melihat hal-hal yang bisa diambil menjadi pelajaran. Jangan biarkan anak terpuruk begitu saja. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Beritahukan pula, gagal sekali bukan berarti menodai usahanya selama ini.

“Jika seorang anak terus melakukan kegagalan, perlu dipertanyakan hal apa yang menjadi kendala. Jika sudah tahu, cari solusi bagaimana agar menghindari sebuah kegagalan, ini seperti melatihnya menganalisis masalah,” lanjut Gary.

Sebagai orang tua, tentunya kita tidak boleh melihat kegagalan yang dialami anak hanya dari satu sisi. Lihatlah dari sisi lain, bahwa kegagalan bisa menjadi kunci sebuah kesuksesan di kemudian hari.

Baca Juga: Pak, Bu, Bagaimana Jika Anak Mulai Tertarik dengan Lawan Jenis?

Jadi, tanyakanlah terlebih dahulu pada anak apakah ia merasa belum berusaha maksimal? Biarkan buah hati memahaminya secara perlahan. Jangan lupa untuk menyemangati kembali.

Beri Waktu

Hal terpenting dalam menerapkan cara menguatkan mental anak saat ia mengalami kegagalan adalah memberinya waktu, untuk diam dan menerima kekecewaannya. Jika tak mampu menahan, tuntun ia untuk mengambil air wudhu.

Maksudnya adalah sebagai time out, untuk mengendapkan pelajaran yang baru saja ia dapatkan. Karena dalam kekecewaan, tak satu pun jalan bisa terlihat. Waktu yang kita berikan ini akan menjadi kesempatan untuk anak mengambil hikmah, dan kemungkinan munculnya jalan keluar.

Lindungi Diri

Tidak perlu menjadi sosok yang paling tegar dalam menghadapi kegagalan, karena kecewa itu sangat manusiawi. Jadi, cara menguatkan mental anak adalah dengan mengajarkan anak untuk tidak melukai dirinya sendiri, dengan mencoba bersikap biasa disaat belum siap, maka akan menimbulkan luka yang seharusnya tak perlu ada.

Meski sayangnya di dunia ini ada saja orang-orang yang tidak bisa berempati, penasaran, dan merasa lebih baik jika melihat kegagalan orang lain. Sulit menghindari pembicaraan dengan orang-orang seperti itu, karena mereka akan terus bertanya. Maka, ajak anak untuk mengurangi kontak dengan mereka, kita pun tak memiliki kewajiban apa-apa dengan mereka, bukan?

Kegagalan Anak adalah Kegagalan Keluarga

Jangan menimpakan seluruh penyebab kegagalan pada anak, karena dia sendiri sedang mencari jawaban penyebab kegagalannya tersebut, yang sebagian besar biasanya menjadi menyalahkan dirinya sendiri.

Maka, cara menguatkan mental anak selanjutnya adalah dengan menyadarkan dia jika strategi matang yang telah dijalankan, bukan jaminan keberhasilan, karena kunci dari keberhasilan adalah usaha kita yang dilengkapi ridho Allah. Ridho Allah bukan semata-mata tanggung jawab si anak untuk mendapatkannya, melainkan juga dari ibadah, sedekah, dan keikhlasan kita sebagai orang tuanya.

Namun, jika semua usaha dan ibadah sudah dilakukan, tapi tetap gagal, mungkin Allah sedang menguji keimanan keluarga kita, dan bukan tidak mungkin Allah sedang menyiapkan yang lebih baik. Tetaplah berprasangka baik pada-Nya.

Jadilah Tempat Berlindung (Bukan Tempat Bersembunyi)

Kita memang perlu melindungi anak yang sedang dan masih kecewa atas kegagalannya. Meski kita juga harus memberi tempat berlindung yang aman dari perasaan malu, bukan berarti kita boleh menjadi tempatnya untuk bersembunyi.

Karena, cara menguatkan mental anak yang baik adalah dengan menyadarkan anak perlu menghadapi kegagalannya tersebut, seperti yang ditegaskan oleh ibu Elly Risman. Anak-anak harus menghadapi pertanyaan seputar kegagalannya itu. Anak-anak harus menerima simpati pun cibiran. Nah, tugas kita sebagai orang tua adalah memperbaiki kondisi mentalnya.

Kita harus bisa menjalankan peran, bicara dari hati ke hati pada anak, katakan bahwa fakta tersebut pada akhirnya harus dihadapi. Kadang ada juga orang tua yang membiarkan anaknya menghadapi kenyataan sejak awal. Beberapa justru menjadi kuat, tapi tak sedikit yang patah.

Bahkan ada pula yang akhirnya terbiasa dengan kegagalan dan tak mengambil pelajaran apa pun, karena keluarga pun membiarkannya menghadapi sendiri. Dan, cara menguatkan mental anak adalah dengan menjalankan peran untuk menyimbangkan kondisi mental anak saat gagal, dan menjaga mental anak agar tangguh di masa depan.

Bangkit

Cara menguatkan mental anak juga kita harus memberikan pengertian pada seluruh anggota keluarga (kakak dan adiknya), untuk memberikan dukungan moral pada saudaranya. Ceritakan juga kisah sukses orang-orang yang pernah gagal, untuk memberikan motivasi.

Lebih baik lagi dengan mengambil contoh dari saudara atau orang-orang terdekat, agar dia bisa mendapatkan gambaran lebih jelas, tentang betapa pentingnya untuk tetap tidak menyerah. Dalam proses itu, perlahan ambil jarak untuk mendorong keberaniannya melangkah sendiri, menghadapi kegagalan tersebut dan meneruskan hidup.

Related image
calhealthreport.org

Semoga setelah menerapkan cara menguatkan mental anak, kita dan buah hati bisa saling menguatkan satu sama lain, ya.