Distimia, Salah Satu Alasan Seseorang Mengakhiri Hidup

0

Seruni.id. Pada tanggal 1 februari 2018 kemarin terdengar kabar bahwa bahwa anak dari mantan petinggi Kuba yaitu Fidel Castro bunuh diri akibat depresi yang dideritanya.  Fidel Angel Castro Diaz-Balart atau yang dijuluki Fidelito itu bunuh diri di Havana dengan cara menembak kepalanya. Di tahun  sebelumnya (2017), salah satu idol yang cukup berpengaruh di Korea Selatan yaitu Jonghyun – Shinee juga ditemukan meninggal bunuh diri dengan cara menghirup asap beracun dari briket batubara yang dibakarnya. Pilihan jonghyun untuk bunuh diri dinyatakan akibat depresi yang dideritanya.

Sebenarnya, banyak alasan mengapa seseorang ingin mengakhiri hidupya. Sebagai contoh adalah masyarakat Korea Selatan, Negara ini merupakan salah satu Negara dengan angka bunuh diri yang cukup tinggi. Alasan mengapa masyarakat disana ingin melakukan bunuh diri lebih karena tekanan yang dideritanya. Kaum muda di Korsel banyak tertekan karena tugas sekolah, ujian dan persaingan kerja. Mereka berlomba – lomba untuk masuk di perusahaan besar atau menjadi seorang idol. Bahkan, untuk meredam banyaknya angka bunuh diri di Korsel sebuah pusat pengobatan  “The Hyowon Healing Center” memberikan pengalaman kematian bagi masyarakat.

Terlalu banyaknya tekanan yang timbul merupakan salah satu alasan munculnya depresi. Salah satu depresi yang kemudian muncul adalah Distimia. Distimia merupakan depresi yang berlangsung lama – minimal 2 tahun berturut- turut untuk dewasa dan 1 tahun untuk anak kecil. Pengidap distimia mengalami gejala yang cukup ringan dari hari ke hari namun seiring bertambahnya waktu keadaan ini memiliki efek samping yang berbahaya. Ciri – ciri dari penderita distimia adalah hilangnya semangat untuk beraktivitas, merasa tidak punya harapan, rendah diri dan serba kekurangan, produktivitas dan konsentrasi menurun, pola tidur terganggu hal ini terjadi karena mereka kekurangan kenikmatan dalam hidup mereka.

Distimia dapat diobati dengan cara mendatangi dokter untuk melakukan psikoterapi, termasuk terapi kognitif agar dapat membantu mengubah cara pikir si penderita hingga memberikan resep pengobatan antidepresi untuk membantu terapi tersebut. selain terapi yang diberikan oleh dokter, orang atau lingkungan terdekat dengan penderita harus dapat memberikan dorongan serta motivasi yang membangun. Penderita harus diberi tahu bahwa keberadaannya di Dunia ini merupakan sebuah anugrah yang diberikan Tuhan kepadanya.

-dari berbagai sumber-

 

 

LEAVE A REPLY