6 Ciri-ciri Hati yang Sehat

bostonglobe.com

Seruni.id – Hati yang sehat adalah hati yang senantiasa mengingat Allah SWT. Ketika mendengar ayat-ayat Allah maka hatinya bergetar dan semakin bertambah keimanannya, hati yang sehat dan bersih juga selalu menempatkan cintanya hanya kepada Allah SWT. Ia akan rela melakukan apapun yang Allah perintahkan, dan berusaha untuk selalu menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Demikianlah hati, semua yang dilakukan oleh anggota tubuhnya akan menjadi baik manakala hati itu baik, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging. Apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak (buruk) maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori).

Related image
busy.org

Para ulama membagi hati menjadi tiga. pertama, hati yang sehat yaitu hati yang selamat dari kemusyrikan, syahwat, bid’ah dan subhat. Kedua, hati yang sakit yaitu hati yang cinta dan beribadah kepada Allah namun di lain waktu ia juga cinta kepada dunia dan melakukan ma’siat. Ketiga, hati yang mati yaitu hati yang tidak mengenal Allah apalagi beribadah kepada-Nya. Baik hati yang sehat, yang sakit maupun yang mati memiliki tanda masing-masing. Sehingga dengan tanda-tanda itu kita bisa introspeksi diri, dimanakah posisi hati kita sekarang?

Banyak Berdzikir

Berdzkir adalah amalan lisan, belum bisa dikatakan berdzikir jika hanya mengingat Allah dalam hati saja. Ada banyak dalil yang menunjukkan bahwasannya dzikir harus diucapkan dengan lisan. Orang yang memiliki hati yang sehat tidak pernah merasa bosan dengan kegiatan yang satu ini, sehingga Utsman bin Affan r.a pernah berkata “Seandainya hati kita suci, niscaya kita tidak akan pernah bosan membaca Al-Qur’an. Sungguh, aku tidak suka apabila datang padaku suatu hari yang di situ aku tidak melihat mushaf (Al-Qur’an).”

Baca Juga: 5 Solusi untuk Mengobati Rasa Sakit Hati

Bersedih Ketika Lalai Melakukan Kebaikan

Orang yang sehat hatinya akan merasa sedih ketika ada kebaikan yang terlewat darinya. Ia menyadari bahwa Allah telah memberikan kepadanya ni’mat yang banyak dan menjanjikan syurga bagi orang-orang yang mau berbuat baik. Oleh karenanya ia akan senantiasa bertobat memohon ampun kepada Allah jika ada kebaikan yang luput darinya apalagi ada kesia-siaan yang terlanjur ia lakukan.

Kikir Terhadap Waktu

Jika seseorang memiliki hati yang sehat, mereka begitu pelit terhadap waktu. Ia tidak akan pernah rela waktunya terbuang begitu saja tanpa ada penambahan ilmu dan amal kebaikan. Orang yang sehat hatinya sangat tidak menyukai kegiatan dan permainan yang sia-sia, begitu juga dengan perkataan yang sia-sia seperti nyanyian dan hiburan yang berlebihan. Sampai-sampai hatinya pun ia jaga dari memikirkan sesuatu yang sia-sia apalagi menghayalkan kema’siatan.

Shalat yang Khusyu

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya diantara kesenangan dunia kalian yang aku cintai adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyejuk mataku terletak di dalam shalat.“ (HR. Ahmad). Orang yang hatinya bersih akan khusyu dalam shalatnya, segala kesedihan dan permasalahan hidup termasuk gemerlapnya dunia tidak akan mengganggu pikirannya ketika ia shalat. Berbeda dengan orang yang sakit hatinya, jangankan dalam keadaan bekerja, ketika shalatpun yang ada di pikirannya hanyalah dunia.

Baca Juga: 8 Manfaat Dan Tata Cara Shalat Dhuha

Perhatian yang Dalam kepada Allah

Hati yang sehat selalu memikirkan Allah dan selalu mencari hikmah dibalik setiap kejadian. Tidak ada yang diinginkan olehnya kecuali keridhoan Allah. Sebesar apapun keni’matan yang ia dapatkan namun jika Allah tidak ridho maka bersedihlah hatinya. Seakan tidak ada satupun yang dapat membuat hatinya tenang dan bahagia kecuali cinta Allah.

Fokus pada Perbaikan Diri

Yang biasa dilakukan oleh orang yang sehat hatinya adalah evaluasi diri, selalu berusaha memperbaiki amal perbuatan dan meluruskan niatnya setiap saat. Ia selalu berfikir, kebaikan apa lagi yang belum ia lakukan dan apakah amal perbuatan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Wallahu a’lam.